User:Naomi Stevenson
From Wikipedia, the free encyclopedia
Malingsia is a term which is used by some Indonesians who are anti-Malaysia. It was started to be in use during the cultural dispution in 2007. The word Maling in Indonesian language means "steal". This term is to refer Malaysia as a "thief country" by substituting "Malay" with "Maling". Indonesians think that Malaysia has stolen many of their culture, such as angklung, the song rasa sayang-sayange, and Reog.[1][2][3][4] This term is getting popular among Indonesians, and gives 125 000 search results in Google on 3 December 2007[5]. Examples are logos of "Visit Malingsia 2007", "Truly Maling Asia" being sold in Indonesia.[6][7]
This term is not in popular use in mainstream medias and government official websites, but popular in non-mainstream medias and forums, and also personal websites.
Contents |
[edit] History
Malaysia and Indonesia have dispution over Ambalat, Sipadan and Ligitan and handled the matter to the International Court of Justice. At the end, Malaysia won the case for being supported by 16 judges, while only one judge was on Indonesia. In 2007, the Ambalat issue came out again.[8] So the term "Malingsia" started to appear.
Donald Luther Colopita, a karate referee from Indonesia, was beaten up in Malaysia because of fighting against the police while being arrested. Besides that, Malaysia was accused of using the song Rasa Sayang for promotion, and showed some cultures and foods such as Rendang, Wayang Kulit, Hombo Batu, Kuda Lumping, Tari Pendet, Tari Folaya, Reog and angklung as Malaysian culture[9], while these are considered by Indonesians as their own.[10] Therefore, the term "Malingsia" is used by some Indonesians who think that Malaysia is a thief.
[edit] Penggunaan
Banyak pengguna dunia maya/internet yang menggunakan istilah ini, terutama di forum-forum seperti Kaskus. Istilah ini makin meluas di kalangan anak muda Indonesia, terutama dengan penjualan kemeja "Visit Malingsia 2007 - Trully Maling Asia.[6]
Istilah Malingsia pernah digunakan dalam akhbar Indopos[11], dan Pemerintah kota Tarakan[12]. Malah BBC Indonesia [13] turut menyingungnya sebagai nama fail laman, walaupun tidak menyebut secara lansung dalam rencana mereka.
Pihak pemerintah Indonesia tidak membuat kenyataan menyokong pengunaan perkataan ini, tetapi tidak juga melarang penggunaannya atas alasan kebebasan akhbar. Bahkan Wakil Ketua Komisi I DPR Sidharto Danusbroto (F-PDIP) dan anggota Komisi I dari Fraksi Partai Golkar Hajriyanto Y Thohari turut meminta Konsep Serumpun Indonesia-Malaysia dikaji semula.[14] Sikap tidak tegas kerajaan Indonesia ini menampakkan seolah-olah kerajaan Indonesia tidak peka dengan jirannya yang banyak memberikan peluang pekerjaan kepada rakyatnya. Malah ini juga memperlihatkan betapa kerajaan Indonesia gagal untuk mendidik akhlak rakyatnya menghormati jiran tetangga.
Istilah Malingsia turut dilaporkan dalam Berita Jepun[15], Berita Australia[16], dan Berita Amerika Syarikat[17].
[edit] Istilah alternatif
Selain Malingsia, terdapat beberapa istilah ciptaan lain yang digunakan, seperti Malingsial, Malasya, Maling Asia, dan Malon.[18] Istilah Malingsial merujukkan Malaysia sebagai "Maling Sialan" manakala istilah Malasya pula merujukkan Malaysia sebagai rakyat pemalas. Istilah Maling Asia juga merujukkan Malaysia sebagai pencuri Asia, sedangkan Malon dipopularkan oleh News dot com, acara parodi politik yang disiarkan di stesen televisyen Indonesia. Penggunaan berbagai gelaran ini memperlihatkan sikap rakyat Indonesia yang masih tidak banyak berubah semenjak operasi 'ganyang Malaysia' yang dilancarkan pada sekitar tahun 1963, iaitu apabila Malaysia ditubuhkan.
Sungguhpun begitu, kerajaan Malaysia masih mengamalkan pendekatan diplomatik dengan mengadakan perbincangan sebagai menyelesaikan pergeseran ini. Antara lain, tiada ulasan dilakukan dalam berita utama. Rancangan berbentuk muhibah digalakkan seperti Titian Muhibah, Seputar di Kota Jakarta dan lain-lain. [19]
Pihak kerajaan Malaysia turut meletakkan syarat yang ketat bagi memastikan tidak berlaku penindasan kepada pembantu rakyat asing (PRA). Syarat-syarat ini dikenakan kepada kesemua majikan dan tindakan boleh diambil, termasuk menyenarai hitam nama mereka sekiranya melanggar syarat-syarat tersebut. Antaranya adalah:-
- Majikan bukan Islam yang menggaji PRA yang beragama Islam mestilah menghormati sensitiviti agama PRA dengan membenarkan PRA melakukan ibadah seperti sembahyang 5 waktu, puasa bulan Ramadhan dan tidak disuruh melakukan kerja-kerja rumah yang bertentangan dengan agama Islam. [20][21]
Para pembantu rakyat asing juga perlu hadir sendiri setiap tahun untuk memperbaharui pas pekerjaan masing-masing di kedutaan asing-masing, dengan itu membolehkan mereka melaporkan sebarang salah laku majikan sendiri.
[edit] Reference
- ^ TEMPO Interaktif
- ^ Metrotvnews.com, Jakarta.
- ^ Jakarta, GhaboNews.
- ^ Komen pedas forum Indonesia.
- ^ Pencarian kata Malingsia di google (Indonesian language). Google (1999). Retrieved on 21 November 2007.
- ^ a b Kaos Visit Malingsia - Truly Maling Asia - (Indonesian). Kaskus (2007). Retrieved on 21 November 2007.
- ^ Indonesians picket Malaysia embassy in dance row (English). The Strait Times (2007). Retrieved on 21 November 2007.
- ^ TNI AL Siap Tambah Pasukan ke Ambalat (bahasa Indonesia). Kompas (2007). Retrieved on 21 November 2007.
- ^ Iklan Tolak Angin mengenai budaya Indonesia yang diklaim
- ^ Situs Resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia, www.heritage.gov.my. Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia (2007). Retrieved on 21 November 2007.
- ^ INDO.POS Online
- ^ Situs Resmi Pemerintah Kota Tarakan
- ^ laman WEB BBC Indonesia.com
- ^ Konsep Serumpun Indonesia-Malaysia Mesti Ditinjau Ulang
- ^ Berita Jepun bahas istilah Malingsia
- ^ Berita Australia bahas istilah Malingsia
- ^ Berita Amerika bahas istilah Malingsia
- ^ Pemilihan istilah terbaik untuk Malaysia di malingsia.com
- ^ Kl-Jakarta To Step Up Cooperation In Broadcasting, Information.
- ^ http://www.imi.gov.my/bm/perkhidmatan/im_Separa.asp
- ^ http://ccm.um.edu.my/umweb/fsss/images/persidangan/Kertas%20Kerja/Darul%20Amin.doc

