User:Gynex
From Wikipedia, the free encyclopedia
DILEMMA URBANISASI
A. Urbanisasi Berlebih
Urbanisasi berlebih merupakan suatu keadaan tidak mempunyai kota-kota yang menyediakan fasilitas pelayanan pokok dan kesempatan kerja yang memadai untuk penduduk yang bertambah dengan pesat dan bukanlah suatu konsep yang menyenangkan para ahli ekonomi dan ahli perencanaan. Salah satu alasannya adalah bahwa urbanisasi berlebih terjadi diluar perkiraan. Masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara baru merdeka pada waktu itu dan sekarang dirasakan amat berat sehingga terlalu lamban bila dipecahkan dengan meniru pembangunan secara evolusioner dan kapitalime modern. Salah satu bagian dari proses industrialisasi yang tak dapat dihindarkan adalah urbanisasi. Perpindahan penduduk dan sumber daya lain dari desa ke kota diharapkan dapat memberikan tenaga kerja yang murah dan tabungan yang dipaksakan (forced savings) untuk mendorong industrialisasi dikota. Kemudian sampai pada titik tertentu diharapkan bahwa (seperti dengan tingkat pertumbuhan penduduk) tingkat urbanisasi akan menurun secara berangsur-angsur, disertai berkurangya kepadatan penduduk di desa dan produktivitas yang lebih tinggi di sektor pertanian. Dengan demikian, diharapkan agar penduduk desa pada umumnya tidak kalah makmurnya dengan para pekerja di kota industri. Migrasi akan sangat berkurang karena rangsangan ekonomi untuk berpindah tidak ada lagi. Meskipun ada beberapa kekecualian, industrialisasi tidak mampu mendorong seluruh masyarakat ke suatu tingkat yang lebih modern dan adil. Tampaknya, keseimbangan antara sektor pedesaaan dan sektor perkotaan masih jauh, dan menurut pandangan beberapa ahli ekonomi dan para pemimpin pemerintahan, keseimbangan itu tidak mungkin tercapai melalui kebijakan yang mengutamakan pertumbuhan industri modern saja. Tidak ada rumus matematik yang menentukan suatu batas tertentu sampai dimana kota-kota tidak boleh dikembangkan lagi. Selain itu, ukuran kota yang optimal ditentukan oleh berbagai faktor ekonomi, sosial, dan geografi yang berbeda-beda antara suatu negara dengan negara lain. Rupanya, tidak ada batasan tertentu mengenai ukuran atau besarnya suatu kota sepanjang ia dapat berkembang ke luar dan ke atas (horisontal dan vertikal) dan pertumbuhan sektor industri dan jasa mampu menyerap sejumlah besar para pekerja baru.
Karena semakin besar perhatian pemerintah terhadap pesatnya urbanisasi, seharusnya masyarakat dan badan-badan yang terlibat dalam usaha pembangunan lebih banyak memperhatikan masalah yang penting ini. Dibutuhkan penelitian lebih banyak lagi, tetapi pada saat ini sudah jelas bahwa ada tiga gejala yang menunjukkan bahwa kota-kota telah tumbuh terlalu pesat untuk dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di negara sedang berkembang. Ketiga gejala tersebut adalah : 1. Jumlah penganggur dan setengah penganggur yang besar dan semakin meningkat. 2. Proporsi tenaga kerja yang bekerja pada sektor industri di kota hampir tidak dapat bertambah dan malahan mungkin semakin berkurang. 3. Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhannya sudah begitu pesat sehingga pemerintah tidak mampu memberikan pelayanan kesehatan, perumahan, dan transportasi yang memadai. Kebanyakan negara sedang berkembang mengabaikan sektor pertanian untuk mendapat sumber daya dalam upaya meningkatkan usaha industrialisasi dan urbanisasi. Kebijakan ini sangat mengutamakan urban bias (kecenderungan mengutamakan kota) yang sudah mendarah daging dalam kehidupan ekonomi di kebanyakan negara sedang berkembang. Kebijakan yang berdasarkan Urban bias ini akan memperlebar jurang pendapatan antara kota dan desa. Keadaan ini mendorong tetap berlangsungnya tingkat migrasi yang tinggi meskipun pengangguran di kota meningkat terus. Selama pendapatan di desa tetap rendah dan upah di sektor perkotaaan lebih tinggi dari semestinya karena kebijakan pemerintah dan pengaruh “institusional” lainnya, maka kaum migran dari desa akan terus mengalir ke kota untuk mencari pekerjaan di sektor modern yang upahnya lebih baik walaupun sukar (atau tidak mungkin) dimasuki. Pengalaman pada beberapa dasawarsa yang lalu menunjukkan bahwa dinegara yang banya penduduknya, urbanisasi bisa menjadi suatu prasyarat bagi modernisasi dan pembangunan ekonomi. Tetapi ini bukanlah satu-satunya prasyarat. Banyak ahli di negara sedang berkembang dan di negara maju sekarang beranggapan bahwa syarat penting lainnya yang belum terpenuhi adalah suatu daerah pedesaan yang lebih produktif.
B. Industrialisasi Urban Bias dan Kemiskinan di Desa Terdapat beberapa perbedaan yang mendasar antara negara-negara yang baru merdeka dan negara maju pada waktu mereka mulai menjalankan industrialisasi satu abad yang lalu atau lebih. Perbedaan utama adalah mengenai penduduk. Sistem pelayanan kesehatan dasar yang dikembangkan oleh negara-negara Eropa dapat menurunkan tingkat kematian secara menyolok di daerah jajahan, tetapi tingkat kelahiran tetap tinggi seperti keadaan semula.
C. Kebijakan-Kebijakan industrialisasi Ada beberapa teori yang dirumuskan dalam tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an untuk menjelaskan bagaimana caranya negara berkembang dapat mengadakan modernisasi. Pada waktu itu, semua teori ini mengakui bahwa industrialisasi merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebasan. Bahkan kaum Marxis pun tidak membantah hal ini. Dengan demikian, muncullah beberapa kebijakan yang memprioritaskan industrialisasi, tanpa memandang orientasi ideologi. Tabungan dalam negeri harus ditingkatkan dan diarahkan untuk memperoleh modal yang dibutuhkan guna membangun industri, jalan raya, dan pelabuhan-pelabuhan untuk menghubungkan pabrik-pabrik (kebanyakan dimiliki orang asing) dalam negeri dengan dunia luar. Sektor pertanian ditekan karena dianggap sebagai sumber dana pembangunan industri yang masih lemah dan dilindungi oleh pemerintah terhadap persaingan dari luar negeri. Perlindungan tersbut dalam bentuk mempertahankan nilai mata uang dalam negeri sehingga lebih murah mendatangkan mesin-mesin dan teknologi yang dibutuhkan untuk membangun industri, penetapan tarif dan pajak sedemikian rupa sehingga mencegah para petani mengimpor barang-barang pertanian dan konsumsi yang lebih murah, dan kebijakan ini memaksa mereka membayar harga relatif tinggi yang ditetapkan oleh indsutri yang dilindungi pemerintah. Selanjutnya nilai mata uang yang tinggi berarti bahwa ekspor relatif murah. Jadi, hampir tidak ada insentif bagi para petani untuk meningkatkan produksi ekspor. Pemerintah mengerahkan segala sumber daya untuk mengadakan investasi yang dapat menciptakan dan mendukung industri. Hanya sedikit sekali sumber daya digunakan untuk sektor pertanian. Para ahli perncanaan dan ahli ekonomi menyatakan bahwa sektor industri dan sektor-sektor ekonomi lainnya akan tumbuh dengan pesat sehingga dapat menyerap para penganggur dan setengah penganggur. Kemudian diharapkan akan tiba saatnya tingkat upah naik, sehingga mesin yang mengemat tenaga kerja secara ekonomis dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimanapu juga, nampaknya tidak banyak pilihan pada waktu itu. Ada beberapa keuntungan ekonomi yang dapat dipetik dari usaha mendirikan kota. Yang paling penting bagi negara sedang berkembang adalah pendapat bahwa pemusatan para importir, pengusaha pabrik, pedangan eceran, dan sejumlah besar konsumen di dalam satu atau beberapa daerah tertentu, biasanya akan menghasilkan paling banyak barang dan jasa dengan biaya termurah dalam pasar yang paling besar. Juga banyaknya tenaga kerja yang mengelompok dalam suatu kota diharapkan memiliki ketrampilan dan pendidikan bermacam ragam sehingga dapat mengisi atau melatih untuk mengisi pekerjaan-pekerjaan di sektor industri. Karena jumlah tenaga kerja ini relatif besar, ada kecenderungan untuk tetap mempertahankan suatu tingkat upah yang memadai, yang akan menekan atau mengurangi biaya produksi. Pemerintah secara langsung mendorong perkembangan kota dengan mensubsidi pendirian dan pemeliharaan fasilitas pelayanan ini. Juga kadang-kadang pajak yang dikenakan pada para pemakai jasa tidak cukup untuk menutup biaya pembuatan jalan raya yang menghubungkan satu kota dengan kota-kota lain dan dengan pelabuhan-pelabuhan. Pemerintah membantu pembangunan yang demikian ini sehingga mengurangi biaya perusahaan dan merupakan insentif untuk mendirikan pabrik-pabrik di kota. Pemerintah memainkan peranan kunci dalam kehidupan ekonomi di hampir semua negara sedang berkembang. Pemusatan para pembuat kenijakn dan birokrat di kota-kota besar kebanyakan di ibu kota, mendorong para produsen barang dan jasa berpusat di kota tersebut. Khususnya ibu kota atau beberapa kota besar yang mempunyai sistem (atau satu-satunya sistem) transportasi dan komunikasi terbaik, yang dengan demikian mengurangi biaya produksi dan distribusi di daerah tersebut. Tentunya, apabila industri berkembang dengan baik di suatu daerah tertetentu, maka perusahaan-perusahaan baru akan lebih tertarik untuk pindah kedaerah tersebut.
D. Migrasi Desa-Kota Perpindahan penduduk dari desa ke kota (migrasi desa-kota) merupakan satu faktor utama yang mendorong pesatnya pertumbuhan kota-kota di negara sedang berkembang. Diduga bahwa pada saatnya tingkat pertumbuhan pendapatan di kota akan berkurang karena kelebihan migran di pasar tenaga kerja. Sementara itu, pertumbuhan sektor pertanian dan penghasilan yang lebih tinggi oleh karena tenaga kerja relatif tebatasdi desa akan meningkatkan pendapatan di desa yang kira-kira dapat mengimbangi pendapatan kota. Hal ini akan mengakhiri keinginan bermigrasi. Jadi daya respons tenaga kerja terhadap perubahan pendapatan dikota dan penghasilan di desa diharapkan akan mengubah apa yang pada mulanya dianggap sebagai suatu pertumbuhan tidak seimbang menjadi suatu pertumbuhan yang stabil, suatu proses mengoreksi diri sendiri. Seperti terbukti sekarang, hal tersebut di atas tidak pernah terjadi. Sebab-sebab utama kegagalan ini berhubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan kebijakan-kebijakan industrialisasi dan urbanisasi yang dikira dapat memacu pertumbuhan ekonomi di segala sektor. Pertama, kemandekan ekonomi di desa menyebabkan pertumbuhan penduduk tetap mencapai tingkat yang sangat tinggi. Kedua, pertambahan penduduk yang tinggi disertai dengan pendapatan yang rendah telah memaksa makin banyak penduduk desa mencari jalan lain untuk meningkatkan tarf hidupnya. Ketiga, kebijakan yang melindungi sektor industri di kota telah menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan kesempatan kerja yang lebih besar di kota.
E. Pengangguran di Sektor Industri. Sejalan dengan meningkatnya migrasi desa-kota, jumlah orang yang mencari pekerjaan di sektor industri meningkat sedangkan jumlah pekerja yang dibutuhkan semakin sedikit. Perpindahan dari industri padat karya ke industri padat modal di negara Barat membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyerap kaum migran di sektor industri. Meskipun perpindahan ini tidak akan dicapai tanpa pengorbanan, namun sektor industri sekalipun sudah semakin bersifat pada modal, pada umumnya berkembang cukup pesat sehingga dapat menyerap hampir semua pencari kerja. Di beberapa negara yang pertumbuhan sektor industrinya tidak dapat mengimbangi pertambahan penduduk, banyak penduduk bermigrasi ke luar negeri. Ada yang berpendapat bahwa kesempatan kerja di sektor industridan urbanisasi yang dialami oleh negara maju seharusnya tidak dianggap satu-satinya modal. Melainkan, pengalaman negara sedang berkembang dewasa ini lebih menyerupai apa yang seharusnya diharapkan dalam proses pembangunan ekonomi. Meskipun begitu, nampaknya sudah disepakati secara umum bahwa sifat pada modal dari teknologi industri modern menghambat penyerapan tenaga kerja yang setiap tahunnya meningkat di kota. Dan diakui juga bahwa dibandingkan dengan tingkat pembangunan dan urbanisasi yang sama di negara industri dulu, jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor industri tidak sama banyaknya di negara sedang berkembang. Barangkali sektor “informal” akan menjembatani jurang ini. Namun, hal ini dapat diragukan karena pertumbuhan sektor jasa sangat tergantung pada pertumbuhan sektor modern. Selain itu data menunjukkan peningkatan pengangguran dan setengah pengangguran yang cukup besar di kota dan hal ini mencerminkan keterbatasan sektor informal yang produktif. Kemungkinan besar bahwa urbanisasi berlebih bisa semakin parah. Pertama, ada beberap bukti yang menunjukkan bahwa tingkat migrasi semakin meningkat. Jika demikian, proporsi penduduk yang hidup dikota meningkat . Kedua, migrasi paling menonjol di kota-kota terbesar.
F. Dampak Pertumbuhan Penduduk yang Pesat terhadap Fasilitas Pelayanan di Kota Pertumbuhan penduduk kota jauh lebih pesat dari kemampuan pemerintah di negara sedang berkembang untuk menyediakan fasilitas pelayanan yang memadai, dan banyak pemerintah tidak berusaha lagi untuk menyediakan fasilitas layanan. Masalah yang dihadapi di kota-kota di negara maju juga dialami di kota-kota negara sedang berkembang , tetapi tingkatnya lebih berat. Semakin besar suatu kota, masalah yang dihadapinya lebih banyak dan lebih sulit. Terbukti bahwa pencemaran udara, kebisingan, kemacetan lalu lintas, kejahatan, dan kesehatan cenderung tumbuh lebih pesat daripada perkembangan wilayah kota-kota besar.
Beberapa ahli perencanaan kota mengatakan bahwa tak ada urbanisasi berlebih karena kota jauh lebih efesien daripada desa di dalam menyediakan kesempatan kerja dan pendapatan yang lebih tinggi, dan alternatif-alternatif lain, seperti overruralization (penduduk desa berlebih) justru buruk. Merek selalu optimis. Pertama, inflasi di negara industri telah meningkatkan biaya impor bahan pangan dan mesin-mesin yang harus dipikul oleh negara sedang berkembang. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang lebih lamban di dunia Barat dan aturan-aturan baru yang membatasi perdagangan telah mengurangi permintaan akan hasil-hasil industri dari negara sedang berkembang. Ketiga, melonjaknya harga minyak telah memperlemah kedudukan ekonomi negara sedang berkembang. Karena faktor ini, masalah keseimbangan neraca pembayaran dan hutang luar negeri (debt service) semakin parah dan untuk mempertahankan pertumbuhan kesempatan kerja di kota. Jika urbanisasi berlebi telah menjadi hal yang biasa, yang berkembang sendiri dan merusak (self perpetuating selfdefeating), maka memaksa orang tinggal di daerah pedesaan bukanlah jalan keluar. Bagaimanapun juga, migrasi sering merupakan suatu usaha yang nekat untuk memperoleh standar hidup yang paling minim. Orang menggunakan “hak pilih” dan berpindah. Bagi kebanyakan negara sedang berkembang, nampaknya tidak ada alternatif yang praktis selain strategi pemusatan pembangunan di daerah pedesaan. Migrasi akan menurun dan pendapatan meningkat di daerah pedesaaan jika sektor pertanian dan indsutri kecil yang berkaitan dengan sektor pertanian di desa dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan. Suatu pendekatan yang demikian ini secara tidak langsung dan perlahan-lahan melawan sebab-sebab timbulnya urbanisasi berlebih.
G. Menciptakan Suatu Strategi Pembangunan Masyarakat Desa Adapun suatu pertumbuhan ekonomi yang meningkat, kebanyakan negara sedang berkembang tetap menghadapi berbagai masalah yang dirasakan pada permulaan masa pembangunan. Justru kemiskinanlah yang merajalela, bertahan terus di luar perkiraan perikemanusiaan, dan nampaknya tak perlu ada dalam dunia yang begitu kaya ini, yang telah menarik perhatian para pengamat. Pertumbuhan ekonomi nampaknya tidak mempengaruhi beratus-ratus juta penduduk yang masih menderita kelaparan setiap hari. Sejak pertengahan 1970-an, ketidakpuasan itu telah dituangkan dalam suatu pendekatan alternatif – pembangunan desa. Dasar pemikiran yang diperoleh melalui suatu penelaahan kembali sejarah ekonomi negara Barat dan dari penelitian yang pertama kali menunjukkan bahwa sektro pedesaan dapan memainkan suatu peranan penting dalam meningkatkan pendapatan dan menciptakan kesempatan kerja.
H. Prinsip-prinsip Strategi Pembangunan Masyarakat Desa yang Mendasar Meskipun penekanan aspek-aspek tertentu mungkin berbeda dan masih disusunnya berbagai perincian yang lebih mendetil, sudah dicapai kesepakatan dalam banyak hal pada tahun-tahun terakhir ini mengenai prinsip-prinsip umum suatu strategi pembangunan masyarakat desa. • Pertumbuhan yang disertai dengan pemerataan merupakan tujuan umum. Peningkatan pendapatan kaum misktin di desa sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi secara umum. • Sektor pertanian harus mendapat prioritas paling tinggi. Sumber-sumber daya dan tenaga kerja trampil harus disalurkan ke dalam suatu usaha yang terus menerus untuk meningkatkan produksi pangan. • Para petani kecil dapat menjadi kunci keberhasilan produksi pertanian jika mereka dapat memperoleh dengan biaya murah • Land reform sering masih dibutuhkan untuk mendorong para petani agar meningkatkan penghasilan mereka. Land reform juga dapat menciptakan distribusi pendapatan dan kekayaan lebih merata di desa. • Prasaran pedesaan khususnya jalan raya, gudan penyimpanan bahan pangan, harus dibangun agar petani dapat dengan menjual hasil-hasil mereka, sehingga dapat didistribusikan dengan kerugian yang minimum. • Menghubungkan para petani dengan pasar adalah sangat penting. Lembaga-lembaga pemasaran, koperasi, dan keuangan yang melayani para petani harus didirikan pada lokasi yang tepat di pasar desa dan di kota-kota kecil. Sekolah menengah dan sekolah teknik juga harus dibangun di sana. • Industri kecil padat karya harus dikembangkan pada pusat ini untuk meningkatkan kesempatan kerja di samping menghasilkan barang-barang dan fasilitas pelayanan yang bermanfaat bagi petani. • Dibutuhkan lebih banyak penelitian dan pengembangan mengenai teknologi yang menggunakan lebih banyak tenaga kerja secara efesien dan lebih sedikit modal di pertanian maupun industri kecil. • Partisipasi dalam proses pembuatan keputusan harus terbuka bagi rakyat dari semua lapisan dalam bidang-bidang yang secara langsung mempengaruhi kehidupan mereka, baik pada tingkat nasional maupun tingkat lokal
I. Kebijakan-kebijakan Praktis Kebijakan-kebijakan industrialisasi di masa lalu tidak hanya gagal mendorong masyarakat ke luar dari keterbelakangan, tetapi bahkan menyebabkan makin parahnya masalah pengangguran dan setengah pengangguran, kemiskinan, migrasi besar-besaran dan pertumbuhan penduduk kota yang tak terkendalikan. Dengan menciptakan keuntungan ekonomi bagi industri-industri yang menggunakan peralatan modern yang hemat tenaga kerja, pengutamaan sektor industri di kota oleh pemerintah akan menghambat suatu pola pertumbuhan yang lebih merata. Kebijakan-kebijakan yang didukung oleh teori sebagian besar berlawanan dengan pengalaman selama ini. Usaha-usaha pemerintah di bidang pembangunan masyarakat desa dipusatkan pada penciptaan iklim fisik dan ekonomi yang menghargai inisiatif yang diambil oleh petani dan pedagang kecil, di samping melanjutkan usaha pembangunan prasarana yang dibutuhkan untuk pembangunan yang lebih seimbang antardaerah. Usaha-usaha untuk mempertajam kebijakan-kebijakan mungkin tidak praktis dan mahal. Menerjemahkan prinsip-prinsip umum ini ke dalam proyek-proyek dan program-program praktis merupakan suatu tantangan besar.
Kesimpulan Adanya Urbanisasi yang berlebih dapat berdampak pada kepadatan penduduk dimana merupakan suatu istilah yang disebut dilema urbanisasi. Penyebab urbanisasi berlebih adalah adanya suatu gejala dimana kota-kota telah tumbuh terlalu pesat di negara yang sedang berkembang. Dengan mengabaikan sektor pertanian sebagai dasar untuk mendapat sumber daya dalam upaya meningkatkan usaha industrialisasi dan urbanisasi. Sehingga terjadinya urban bias yang merupakan kecenderungan lebih mengutamakan kota daripada desa yang mengakibatkan kemiskinan di desa. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan pemerintah daerah dalam otonomi daerahnya masing-masing dalam upaya mendukung Prinsip-prinsip Strategi Pembangunan Masyarakat Desa yang Mendasar sehingga dapat menjamin pembangunan di Desa dan mengurangi pengangguran masyarakat yang ada di kota.

